Mengenal Bung Dimas dan Misi “Penebusan Dosa” di Balik Get Plastic

Share

Banyak orang mengenal Get Plastic Indonesia sebagai organisasi inovatif yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar. Namun, di balik mesin-mesin pirolisis yang futuristik itu, ada sebuah perjalanan spiritual, komitmen yang tak tergoyahkan, dan filosofi hidup yang sangat mendalam dari sang founder, Bung Dimas.

Kali ini, tim Coco Social Fund berkesempatan menggali lebih dalam sisi manusiawi dari sosok yang lebih suka dipanggil “Bung” daripada “Mas” ini. Berikut adalah rangkuman perjalanan inspiratifnya.

Asal-Usul Nama GET: Gerakan Tarik Plastik

Banyak yang mengira “GET” diambil dari bahasa Inggris yang berarti “mendapatkan”. Namun, Bung Dimas meluruskan bahwa GET adalah akronim dari Gerakan Tarik Plastik.

Inspirasi ini lahir dari kegelisahannya saat mendaki gunung sejak tahun 1998. Bung Dimas menyaksikan perubahan drastis; gunung yang dulunya bersih, kini dipenuhi kemasan plastik. Berangkat dari keresahan itu, ia bertemu dengan Jalaluddin Rumi Prasad, seorang rekan dari UGM yang membuka matanya bahwa plastik yang berbahan dasar minyak bumi sebenarnya bisa dikembalikan ke bentuk asalnya: Energi.

Sebuah “Penebusan Dosa” untuk Alam

Salah satu bagian paling menyentuh dari cerita Bung Dimas adalah alasannya terjun total ke dunia lingkungan. Sebelum mendirikan Get Plastic, ia pernah bekerja di industri pertambangan yang secara langsung bersentuhan dengan eksploitasi dan kerusakan alam.

Pada tahun 2012, ia memutuskan untuk “pensiun” dan melakukan titik balik besar. “Saya menyebutnya penebusan dosa,” ungkapnya. Ia berjanji kepada dirinya sendiri dan keluarganya untuk menghibahkan seluruh hidupnya demi memperbaiki kerusakan yang pernah ia saksikan. Bagi Bung Dimas, Get Plastic bukan sekadar proyek, melainkan bentuk pertanggungjawaban moral seorang anak bangsa kepada buminya.

Filosofi Hidup: Planning, Doing, and Finishing

Membangun gerakan tanpa pendanaan donor di awal tentu bukan hal mudah. Bung Dimas memegang teguh ajaran kakeknya: Planning, Doing, and Finishing. “Rencanakan, lakukan, dan selesaikan. Jangan nanggung, jangan setengah-setengah,” tegasnya. Prinsip ini yang membuatnya tetap tegak meski diterpa berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan SDM hingga ancaman fisik dan teror dari pihak-pihak yang merasa terganggu dengan keberadaan inovasinya. Baginya, fokus adalah kunci. Jika ia hanya membuang energi untuk menanggapi teror, gerakan ini tidak akan pernah berkembang.

Mengapa Teknologi Ini Tidak Dipatenkan?

Di tengah dunia yang serba kompetitif, Bung Dimas mengambil langkah yang tidak lazim: Ia tidak mematenkan teknologi pirolisis Get Plastic secara komersial.

Alasannya sangat mulia. Masalah sampah adalah masalah semua orang, bukan hanya masalah Get Plastic. Jika dipatenkan, masyarakat luas akan kesulitan mengadopsi teknologi ini. Bung Dimas ingin teknologi ini menjadi milik publik agar setiap komunitas bisa menyelesaikan masalah sampahnya secara mandiri. Ia bersedia mengajar siapa saja yang benar-benar ingin mengolah sampah demi kebaikan, bukan demi keuntungan semata (profit oriented).

Masa Depan yang Futuristik

Saat ini, Get Plastic tidak hanya berhenti pada bensin. Bersama timnya, mereka sedang mengembangkan turunan produk pirolisis yang lebih luas dan futuristik. Inovasi ini dirancang untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki anak bangsa yang mampu menciptakan solusi lingkungan yang berdaulat atau “Berdikari” sebagaimana cita-cita Soekarno.

Pesan untuk Kita Semua

Kisah Bung Dimas mengingatkan kita di Coco Social Fund bahwa sebuah solusi teknologi hanya akan memiliki “jiwa” jika didasari oleh niat yang tulus dan integritas yang tinggi.

Sampah plastik mungkin adalah masalah makrokosmos yang besar, namun perubahan dimulai dari mikrokosmos, yaitu diri kita sendiri. Seperti yang dilakukan Bung Dimas, mari kita selesaikan apa yang telah kita mulai untuk bumi yang lebih baik.