Menjaga Nafas Budaya Bali Lewat Lensa: Cerita di Balik Kamera Gabriella Okky

Share

Di dunia yang bergerak begitu cepat, di mana tren datang dan pergi dalam hitungan detik, masih ada orang-orang yang memilih untuk berhenti sejenak, mengamati, dan mengabadikan apa yang abadi. Salah satunya adalah Gabriella Okky, atau yang akrab disapa Kak Oki.

Bagi Kak Oki, fotografi bukan sekadar profesi atau hobi sampingan. Ia menyebutnya sebagai sesuatu yang lebih mendalam: “Fotografi adalah cara saya memberi makan jiwa.”

Dari Hobi Menjadi Penjaga Tradisi

Aktif sejak tahun 2017 di Perhimpunan Fotografer Bali (PFB)—komunitas fotografi tertua di Bali—perjalanan Kak Oki sangat erat dengan pelestarian budaya. Dari keterlibatannya dalam Karisma Event Nusantara bersama Kemenparekraf, ia telah menjelajahi sudut-sudut Bali yang bahkan sering kali tidak diketahui oleh orang Bali asli.

“Bali itu kaya sekali. Tiap kabupaten punya keunikan yang berbeda. Sering kali saat saya posting foto, orang Bali sendiri pun bertanya, ‘Memang ada ya upacara seperti ini?’ Di sanalah muncul rasa cinta dan tanggung jawab,” ungkapnya.

Rahasia di Balik Foto yang “Hidup”: Otentik Lebih Baik daripada Indah

Salah satu tantangan terbesar fotografer budaya adalah godaan untuk membuat segalanya terlihat “sempurna” atau estetik demi kebutuhan visual seni. Namun, Kak Oki memiliki prinsip yang berbeda.

Menurutnya, menjaga nilai budaya berarti menangkap realita seotentik mungkin. “Kadang kita ingin mengatur barisan agar rapi atau menambah lighting berlebihan. Tapi untuk melestarikan budaya, saya lebih memilih mengambil apa adanya. Meskipun agak ramai atau tidak seindah foto studio, itulah realitanya. Itulah dokumentasi yang jujur.”

Menghubungkan Masa Lalu dengan Gen Z

Bagaimana cara mengajak generasi muda agar tetap menghargai tradisi? Kak Oki percaya bahwa fotografi adalah arsip masa depan. Visualisasi adalah cara paling instan bagi generasi sekarang untuk mengakses sejarah.

Foto yang diambil hari ini adalah bukti bagaimana upacara Ngaben atau festival budaya dilakukan di tahun 2025. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, dokumentasi ini akan menjadi harta karun literasi bagi generasi mendatang.

Tak Takut AI, Justru Merangkul Teknologi

Di tengah kekhawatiran fotografer akan posisi mereka yang tergeser oleh Artificial Intelligence (AI), Kak Oki justru tetap tenang. Ia melihat AI bukan sebagai musuh, melainkan kawan yang membantu proses kreatif, seperti pembuatan storyboard atau pengembangan ide.

“Fotografer tetap punya sisi kemanusiaan, pandangan yang fresh, dan yang terpenting: networking,” jelasnya. Baginya, koneksi antar-manusia adalah aset yang tidak bisa digantikan oleh algoritma manapun.

Kisah di Balik Foto Favorit: Emosi di Desa Ban

Dalam galerinya, ada satu foto yang begitu emosional: seorang ibu di Desa Ban (kaki Gunung Agung) yang sedang memangku anaknya di tengah rintik hujan hingga sang anak tertidur. Foto ini bukan tentang kemegahan upacara, melainkan tentang cinta dan ketenangan di tengah keterbatasan.

Desa Ban yang terpencil dan kering menjadi latar belakang kisah yang membuktikan bahwa keindahan fotografi tidak selalu ditemukan dalam kemewahan, tetapi dalam momen-momen manusiawi yang tulus.

Menjaga Budaya Lewat Aksi Nyata

Di akhir obrolan, Kak Oki berpesan bahwa melestarikan budaya tidak harus selalu lewat kamera. Bisa lewat jalur pendidikan, menggunakan bahasa daerah, atau sekadar mengenakan pakaian adat di hari-hari tertentu.

Bagi teman-teman yang ingin belajar lebih jauh tentang fotografi atau ingin bergabung dengan komunitas yang suportif, Kak Oki mengajak untuk mampir ke laman PFB Bali. Karena di sana, regenerasi adalah kunci agar nafas budaya Bali tidak pernah berhenti.